ARLISAKADEPOLICNEWS.COM, MBAY- Dua Anggota DPRD Nagekeo asal Kecamatan Mauponggo Patris Bhoko dan Adrianus Watu menyebutkan ada proyek Siluman di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, NTT tahun anggaran 2019.
Proyek siluman itu kata Patris dan Adrianus berupa proyek Pelebaran Jalan yang ada di Desa Wolokisa.
Kepada wartawan pada Rabu (12/02/2020) siang tadi di Kantor DPRD Nagekeo kedua wakil Rakyat ini mengatakan temuan atas proyek siluman itu didapat saat melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) berupa Inspeksi Mendadak (Sidak) terhadap berbagai proyek bermasalah pekan lalu.
Belakangan diketahui proyek siluman itu milik Dinas PUPR Nagekeo yang sumber dananya diambil dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2019.
Data yamg resmi yang diperoleh Arlisakadepolicnews.com dari website LPSE Nagekeo menyebutkan proyek senilai Rp 200.000.000,00 ini adakah Peningkatan Jalan Funga-Watusaju segmen Nagepada-Watusaju.
Kontraktor pelaksananya CV Cahaya Mutiara yang beralamat di Pajoreja, Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo.
Selain tidak dipasang papan proyek sebagai keterbukaan informasi publik, pihak pemerintahan desa juga tidak pernah mengetahui jika ada proyek pelebaran jalan di wilayah setempat. Pasalnya sejak awal pengerjaanya tidak ada laporan ke pihak Desa.
“Sudah tidak ada papan proyek, sampai saat ini masyarakat juga tidak tahu siapa yang mengerjakan proyek itu karena tidak ada laporan ke Desa, jadi sudah bisa dipastikan itu proyek siluman” ujar Patris yang diamini Adrianus Watu.
Patris juga mengatakan berdasarakan hasil pantauan mereka di lokasi kondisi ruas jalan Nagepanda-Watusaju saat ini sangat memprihatinkan. Sebab tumpukan material dari hasil galian tebing, oleh pihak kontraktor ditumpuk di badan jalan, sehingga menyulitkan warga untuk melewati jalur itu.
“Usai dilakukan pelebaran kondisinya sangat memprihatinkan, karena tidak bisa dilalui baik kendaraan roda empat maupun roda dua” katanya.

Hal senada disampaikan oleh Adrianus Watu, Anggota DPRD Nagekeo dari Partai Gerindra yang juga berasal dari Mauponggo.
Adrianus mengaku heran karena pekerjaan tersebut seakan dikerjakan tanpa pengawas.”Kalau ada pengawasan dari dinas terkait dan konsultan pengawas,tentu pekerjaan model begini tidak terjadi,”ucap Adrianus heran.
Apalagi di musim hujan seperti saat ini keadaan jalan akan sangat licin dan membahayakan masyarakat pengguna jalan,”katanya lagi.
Lebih lanjut Adrianus mengharapkan agar kontraktor tidak asal bekerja.”Harus bertanggung jawab terhadap anggaran tersebut. Keadaan begini sangat berbahaya karena itu kontraktor harus segera meminggirkan material. Supaya proyek ini bisa disebut proyek pelebaran jalan, bukan malah penyempitan jalan,”tegasnya.
Apa yang disampaikan Patris dan Adrianus diamini Kepala Desa Wolokisa Adrianus Siga.
Siga mengaku jika pihaknya tidak pernah diinformasikan sebelumnya terkait adanya proyek pelebaran jalan di wilayahnya, baik dari pihak Kontraktor maupun Dinas PUPR Nagekeo.
“Iya pak, kami pihak pemerintahan desa tidak pernah diberitahu sebelumnya, minimal ada informasi, ini tidak sama sekali” sesalnya.

Kepala Desa yang saat dihubungi Arlisakadepolicnews.com tengah berada di Mauponggo itu mengaku, usai dilakukan pelebaran jalan tersebut, dirinya banyak menerima keluhan dari masyarakat, bahwa ruas jalan tidak bisa dimanfaatkan karena ada tumpukan material yang menutupi badan jalan. Bahkan saking banyaknya keluhan, pihaknya sampai melakukan rapat khusus membahas keluhan warga terkait akses jalan yang sudah tidak bisa digunakan di tingkat Desa.
Namun Siga mengaku pihak Desa kesulitan mendapatkan informasi terkait pelaku program baik Dinas maupun kontraktor.
“Saya sudah banyak dapat keluhan dari warga, belum lama ini kami ada rapat di Kantor Desa untuk bahas khusus proyek itu, tapi kami kesulitan informasi” ujar Siga.
Siga mengatakan sampai saat ini Warga masih menanti niat baik Kontraktor ataupun dinas untuk melakukan perbaikan serta pembersihan material yang menutupi jalan. Sebab jalan tersebut kata merupakan akses utama warga setempat.
“Jangankan oto, motor saja tidak bisa lewat, baru baru Pak Wakil Bupati pakai jalan kaki pergi melayat di kampung sebelah” katanya.
Hingga berita ini diturunkan baik Dinas PUPR maupun Kontraktor tidak bisa dihubungi.(**)