Hari Krida Pertanian: “Perubahan Pola Pikir dan Arah Kebijakan Menuju Swasembada Pangan”

  • Whatsapp

Oleh Ir. Darmawangsyah Muin, M.Si
[Wakil Ketua DPRD Prov. Sulsel, Sekretaris Umum DPD Gerindra Sulsel]

Siapa tak mengenal Sulawesi-selatan sebagai salah satu lumbung pertanian di indonesia. Ketersediaan lahan hijau dengan kondisi terbilang optimal menjadi faktor pendukung wilayah kita masih menjadi zona penghasil beras terbesar yang hingga saat ini masih menyuplai ke 27 provinsi di indonesia dan menjadi salah satu sektor penopang program dan strategi pemerintah dalam pengentasan kemiskinan.

Namun menilik kembali realitas kondisi pertanian di sulawesi-selatan memunculkan tanda tanya, apakah swasembada dapat terwujud atau justru hanya akan mengalami kemerosotan dari waktu ke waktu.

Peran penyuluh dan penggunaan pupuk

Salah satu aspek yang dapat memicu kemerosotan tersebut yakni rasio jumlah penyuluh pertanian yang tak seimbang dengan jumlah lahan yang ada. Padahal keberadaan para penyuluh merupakan ujung tombak pertanian yang harusnya mendapat atensi dari pemerintah.

Pada sisi lain, perubahan pola pikir masyarakat petani belum sepenuhnya dapat bergeser. Utamanya terkait dengan penggunaan pupuk kimia yang masih diyakini sebagai satu-satunya solusi padahal kenyataannya selain pupuk kimia kurang baik bagi kesehatan hasil produksi juga disinyalir memicu pemanasan global dikarenakan jumlah kandungan zat nitrogen oksida dalam pupuk kimia.

Kedua hal ini saling terkait antara keberadaan penyuluh dan upaya perubahan pola pikir petani tentang penggunaan pupuk. Dalam Havelock dan Daud (2011) mengungkapkan bahwa “kemampuan penyuluh untuk menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan petani, mendorong, mengaktifkan, menggerakkan dan mengarahkan perilaku kelompok sasaran (petani) agar mau mengemukakan pendapat, keinginan dan pengetahuan dan masalah yang dihadapinya.”

Sejumlah peran penyuluh di antaranya sebagai motivator dalam memberikan motivasi kepada petani untuk menggunakan pupuk organik, yang selanjutnya berperan sebagai mediator yang menjembatani antara petani dan stakeholder terkait termasuk dengan lembaga kajian sebagai sumber informasi dan supervisor pada proses pemupukan.

Penyuluhan pupuk organik

Jika faktanya para petani di indonesia khususnya di sulsel masih enggan beranjak menuju penggunaan pupuk organik, itu berarti upaya penyuluhan harus digenjot secara optimal. Memberikan informasi bahwa pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, dapat mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.

Selain itu, penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan dan tentunya tetap bernilai ekonomis tinggi, dan dapat memperbaiki ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida.

Dengan demikian, pola pikir sebagian besar petani yang ingin serba instan dengan menggunakan pupuk kimia dapat berangsur berubah dan melirik penggunaan pupuk organik sebagai alternatif utama.

Arah kebijakan pertanian

Peran penting Kementerian Pertanian menjadi sangat krusial khususnya dalam melakukan kajian, dan membuat program-program yang lebih bersifat inisiatif dan inovatif. Tentu dengan kolaborasi dan elaborasi dengan badan pemerintahan nasional baik eksekutif maupun legislatif, dan pelibatan elemen/lembaga masyarakat khususnya yang berkecimpung pada sektor pertanian.

Tantangan menuju swasembada pangan jelas tak mudah dan memerlukan atensi dan memaksimalkan intensifikasi pertanian dan pemerintahan pada ranah lokal yang akan berada akan berada pada barisan terdepan dalam pengimplementasian program yang mendukung penguatan ketahanan pangan khususnya komoditi beras terutama dari aspek ketersediaan yang meliputi produksi, konsumsi, maupun distribusi yang berperan penting dalam menggerakkan sektor riil dan menjadikan Sulawesi-Selatan sebagai lumbung beras di timur nusantara.

Pos terkait